Posted by Desa Sukorejo | Rabu, 23 Juli 2014 |
Posted in
Bojonegoro,
Kapas,
KIM Singonoyo,
Lumbung pangan,
Pepaya,
Pertanian,
Produk Unggulan,
UMKM
 |
| Foto/ Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kapas Bojonegoro |
KIM Singonoyo (Desa Sukorejo) - Bidang Pertanian Bojonegoro memang di gencar-gencarkan demi terwujudnya Bojonegoro Lumbung Pangan. Selain Sawo di Purwosari, Melon di Melaten dan Sukosewu ada juga yang lagi Buming di Bakalan - Kapas yaitu Pepaya Cha2 (Chalifornia).
Pepaya dengan bentuk oval dominan mulus tak seperti pepaya lokal pada umumnya ini di kembangkan oleh petani di Kecamatan Kapas - Bojonegoro. Pepaya dengan berat rata-rata 3kg ini dibandrol sekitar Rp. 6.500/kg. Planing kedepan produk unggulan ini akan di display di BPP Kecamatan Kapas.
Bagi yang kepengen hunting buah ini langsung bisa langsung ke TKP. Dari Proliman ke utara sekitar 2 km, ada lapangan Drsa Bakalan masuk ke Barat lebih tepatnya di tempat Bapak Rofi'i.
 |
| Pembibitan Pepaya California |
Posted by Desa Sukorejo | Kamis, 10 Juli 2014 |
Posted in
Bojonegoro,
Kapas,
Kebersihan,
KIM Singonoyo,
Pengairan,
Pintu Air
KIM Singonoyo (Desa Sukorejo) - Pintu air yang berfungsi untuk mengendalikan atau mengatur debit aliran air untuk mengairi persawahan di Desa Pelem dan sekitarnya kini kurang terurus. Ilalang dan Rumput liar meninggi sangat terlihat di lokasi Pintu air Jembatan Bogo, Kapas - Bojonegoro. Sampai hari ini 10/7/14 belum terlihat warga atau dinas terkait yang membersihkannya. Takutnya musim penghujan lebih dulu datang dan dapat menyebabkan banjir karena pohon keres dan rumput liar dapat menumpuk sampah menyumbat aliran air pada pintu air tersebut.
"Halah ora enek seng ngeresik'i pisan pindho yo mung di cet wesi-wesine seng ketok mben gak teyeng, lha piye wong-wong lanang seng cedak yo podho mergwe muleh-muleh wes dalu ra plaur dak'an ngeresik'i thek yo jeru". Jelas mbah Jah dengan logat khas Bojonegoronya. (Ly)
Mungkin Dari pihak pemerintah juga harus berusaha mensosialisasikan ke warga masyarakat, bahwa segala fasilitas umum yang berkaitan dengan masyarakat untuk dapat kiranya di jaga bersama. Supaya Masyarakat juga cerdas dan tanggap tidak selalu mengandalkan Pemerintah atau dinas terkait.
Seperti Fenomena Air mancur di Taman Munginsidi yang beberapa waktu lalu tidak dirawat malah di pakai mandi. #Miris
Posted by Desa Sukorejo | |
Posted in
Bojonegoro,
Kapas,
Kesehatan,
KIM Singonoyo,
Pilpres,
Polindes

KIM Singonoyo (Desa Sukorejo) - Seluruh warga Indonesia sedang berpesta demokrasi hari ini (9/7/14) karena Indonesia punya gawe Pemilihan Presiden (PilPres) 2014. Pesta Demokrasi ini berlangsung di semua daerah. Oleh sebab itu juga Polindes Desa Plesungan Sepi. Tidak terlihat adanya aktivitas di sana. Meski demikian tidak menutup kemungkinan jika ada warga yang membutuhkan pertolongan pihak Polindes yang piket tetap akan melayani. Jelas Ibu Sum warga Sekitar Polindes. (Ly)
Untuk kita ketahui bersama Manfaat Polindes :
- Bagi masyarakat : a. Permasalahan didesa dapat terdekteksi dini, sehingga bisa ditangani cepat dan diselekaikan, sesauai kondisi, potensi dan kemampuan yang ada, b. Memperoleh pelayanan kesehatan dasar yang dekat.
- Bagi kader : a. Mendapat informasi awal di bidang kesehatan, b. Mendapat kebanggaan, dirinya lebih berkarya bagi masyarakat.
- Bagi puskesmas : a. Memperluas jangkauan pelayanan puskesmas dengan mengoptimalkan sumber data secara efisien dan efektif, b. Mengoptimalkan fungsi puskesmas sebagai penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
- Bagi sektor lain : a. Dapat memadukan kegiatan sektornya dengan bidang kesehatan, b. kegiatan pemberdayaan mesyarakat dapat dilakukan lebih efektif dan efisien.
Posted by Desa Sukorejo | Jumat, 04 Juli 2014 |
Posted in
Bojonegoro,
Ekonomi,
Kapas,
KIM Singonoyo,
Lumbung Energi,
Pavingisasi,
Pembangunan,
Persawahan
 |
| Pavingisasi Jalan Raya Plesungan |
KIM Singonoyo (Desa
Sukorejo) - Berkaitan dengan Program Pavingisasi yang Pemkab canangkan.
Jalan Raya Plesungan yang rusak di perbaiki dengan paving. Selain
relatif murah Pavingisasi juga dinilai cukup efektif. Jika terjadi
kerusakan dapat segera diperbaiki dengan mudah 4/7/2014. (Ly)
 |
| Pembatas Jalan Paving |
Program pavingisasi
tersebut kata Bupati Bojonegoro, Suyoto, dipercaya mampu mengoptimalkan
fungsi akses transportasi pedesaan yang kerap rusak akibat banjir yang
datang setiap musim hujan. Jalan aspal yang dibangun selalu tidak
bertahan lama, karena memang merupakan tanah gerak. Langkah awalnya dulu
hanya mencoba 600 meter jalan desa dipasang paving, dan ternyata cukup
efektif dan kuat. Kemudian ditetapkan jalan paving digunakan untuk
seluruh jalur penghubung antardesa, dan mempercepat target konektivitas
antar 28 kecamatan dan 430 desa di Bojonegoro. Berbagai model pengadaan
jalan paving telah dilalui, dari menggunakan model kontrak, lalu paving
sharing, berbagi mesin paving sederhana, hingga masyarakat membeli,
memasang dan merawat jalan paving sendiri.
Berdasarkan
program tersebut juga Kabupaten Bojonegoro mendapatkan hadiah uang
senilai Rp 300 juta dari United in Diversity bekerjasama dengan
Sustainable Development Solution Network (SDSN) Indonesia. Dimana
Kabupaten Bojonegoro unggul dari beberapa lembaga nominator lainnya
seperti, Conservation international indonesia, the learning farm,
Telapak foundation, IBEKA foundation, dan Surya University.
Posted by Desa Sukorejo | |
Posted in
Bojonegoro,
Budidaya,
Ekonomi,
Jamur Tiram,
Kapas,
KIM Singonoyo,
Lumbung pangan,
Pertanian,
UMKM

KIM Singonoyo (Desa Sukorejo) - Budidaya jamur tiram ala desa klampok Kecamatan Kapas kian menjadi. Berawal dari usaha mandiri "home industri" dengan 500 kantong plastik. Dengan modal sekitar Rp. 900.000,-
kini sudah memiliki 15.000 kantong. Tidak hanya itu, di
desa tersebut kini sudah tumbuh sekitar 30 pengusaha.
“Dulu kita hanya mampu produksi 60 kg/hari tapi alhmdulillah sekarang sudah lebih dari 150 kg/hari” kata M. Kharisudin, Petani Jamur
Sejak tahun 1996, budidaya jamur tiram menjadi usaha sampingan warga Desa Klampok, Kecamatan Kapas,Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. “Ini usaha alternatif bagi petani di sini, lumayan untuk menambah pendapatan warga,” ungkap Achmad Nurul Huda, Kepala Desa Klampok.
Menurut Huda, sudah ada 22 Kepala Keluarga (KK) yang menggeluti usaha budidaya jamur tiram di desa yang mempunyai jumlah penduduk 888 jiwa di 262 KK. Guna menjadikan Desa Klampok sebagai sentra jamur tiram, pihaknya mengaku telah membuat kebijakan khusus, yakni mewajibkan perangkat desa untuk membudidayakan jamur tiram.
Huda menjelaskan, budidaya jamur tiram mempunyai prospek yang cukup cerah secara ekonomis. “Hanya membutuhkan 40 hari sejak pananaman, kita sudah bisa panen. Terlebih kamipun tak perlu membeli bibit dari luar,” ujarnya.
Selain secara ekonomi menguntungkan, di Desa Klampok sendiri hasil budidaya jamur tiram juga digunakan untuk kegiatan sosial. “Untuk yang kurang mampu, kita sama-sama membantu dan mengajak membudidayakan, bibitnya diambilkan dari keuntungan yang ada,” tambahnya.
Mengenai pemasarannya, Huda mengaku hingga saat ini permintaan jamur tiram dari dalam kota Bojonegoro saja masih belum dapat terpenuhi dari desanya. “Dari Kota Bojonegoro permintaan rutinnya adalah 7 kuintal per panen, Desa kami hanya mampu memenuhi 50 persennya saja,” tambahnya.
Kedepannya, Huda menyatakan akan mencoba kemungkinan penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk pengembangan budidaya jamur tiram di desanya.
Untuk memproduksi jamur ini, membutuhkan waktu yang panjang, mulai dari persiapan ruangan, mulai dari pengaturan tempat, rak-raknya, baru pada proses pembuatan media tanam jamur, yang dimulai dari persiapan, pencucian, sterilisasi, pencampuran bahan, pengoposan, pewadahan, sterilisasi II, pendinginan, inokulasi dan inkubasi.
“ini butuh proses,” tutur M. Kharisudin.
Jamur ini dapat dipanen setelah 40 hari, setelah itu dapat diunduh per dua minggu sekali sampai satu tahun. Rata-rata satu baglog dapat menghasilkan maksimal setengah kilo gram.
“Jamur ini menunggu sampai baglognya putih, baru tumbuh jamur,” ujarnya.
Untuk mendorong agar jumlah produksi jamur tiram putih terus naik di Desa Klampok. Saat ini, melalui kebijakan desa, sebelum masyarakat diajak berpartisipasi, seluruh perangkat diwajibkan untuk membudidayakan jamur. Dan dibuatkan kelompok petani jamur.
“Semua perangkat saat ini telah membudidayakannya,” kata A. Nurul Huda, Kepala Desa Klampok
Posted by Desa Sukorejo | Selasa, 01 Juli 2014 |
Posted in
Bojonegoro,
Kapas,
KIM Singonoyo,
Safari Ramadhan

KIM Singonoyo (Desa Sukorejo) - Memasuki Bulan suci Ramadhan Bupati Bojonegoro dan Wakil Bupati beserta Sekretaris Daerah dan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengawali kegiatan safari Ramadhan di Kecamatan Kapas pada hari ini, Selasa (1/7) sore ini. Demikian seperti diungkapkan oleh Kepala Bagian Humas dan Protokol, Hary Kristianto.
Disampaikan Kabag Humas, safari Ramdhan merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam rangka lebih mendekatkan kepada masyarakat. Dijelaskan Kabag Humas, dalam kegiatan ini Bupati dan Wakil Bupati akan menyerahkan bantuan kepada kaum Lansia yang menjadi titik lokasi kegiatan safari ramadhan ini. Sebenarnya ada esensi penting yang dimaknai dari kegiatan safari ramadhan ini adalah bentuk anjangsana/ silaturahmi antara pemerintah sekaligus mendekatkan antara pemerintah dengan masyarakat.Sehingga menjadi media yang tepat untuk mengetahui kondisi riil dilapangan, selain itu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk semakin mengenal dan lebih dekat dengan para aparatur pemerintah. Dikesempatan ini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menyampaikan harapan kepada pemerintah sekaligus menyampaikan program pemerintah kepada masyarakat.

Menurut Kabag Humas, Hary Kristianto, selain Bupati dan Wakil Bupati, safari Ramadhan ini dihadiri pula oleh Sekretaris Daerah dan seluruh pejabat dilingkup Pemkab Bojonegoro. Selain itu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten dan Wakil Ketua juga turut serta mendampingi dalam kesempatan ini.
Untuk kegiatan safari Ramadhan tahun ini diawali diKecamatan Kapas tepatnya di Masjid Farid Alal Mukminin di Desa Tikusan. Jadwal selanjutnya pada tanggal 3 Juli di Masjid Daimatul Muttaqin Desa Balongrejo Kecamatan Sugihwaras. 7 Juli safari ramadhan Bupati dan Wakil Bupati di Masjid Kamaludin Desa Ngradin Kecamatan Padangan. 9 Juli di Masjid Al Huda Desa Sumberarum Kecamatan Ngraho. 11 Juli di Masjid Darud Da’wah Desa Tlogohaji Kecamatan Sumberejo. 15 Juli di Masjid Al Akbar Desa Tinawun Kecamatan Malo. Adapun untuk tanggal 17 Juli Safari Ramadhan di Masjid Baitul Khikmah Desa Bondol Kecamatan Ngambon. DItambahkan Kabag Humas dan protokol, selain agenda safari Ramadhan juga akan digelar beberapa agenda lain yakni buka bersama ulama umaro dan anak yatim yang akan diselenggarakan di Pendopo Malwopati yang direncanakan pada 21 Juli mendatang.
Selain silaturahmi dalam kesempatan ini Bupati beserta ibu, wakil Bupati beserta Ibu dan Sekretaris Daerah yang didampingi ibu, direncanakan untuk menyerahkan bingkisan kepada kaum dhuafa dan lansia.
Posted by Unknown | Senin, 30 Juni 2014 |
Posted in
Bojonegoro,
Holtikultura,
Kapas,
KIM Singonoyo,
Lumbung pangan,
Melon,
Pertanian
KIM Singonoyo (Desa Sukorejo) - Kemarau
tiba, petani Desa Ngampel Kec. Kapas mencoba mencari peruntungan dengan
menanam Melon. Sesuai dengan himbauan yang dikeluarkan oleh Dinas
Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terkait komoditas
tanaman yang dianjurkan saat musim kemarau tiba yaitu antara lain jagung, melon, ketimun dan krai sejumlah petani menanggapinya dengan
bermacam reaksi. Dan beberapa Petani di Desa Ngampel, Kecamatan Kapas memilih
untuk menanam melon selain mudah setelah musim panen selesai lahan bekas tanam melon struktur tanah sangat cocok untuk tanaman cabai.
"Melon
gampang ngeramute mbak, tur yo ra butuh banyu akeh, pupuk'e yo arang2
ae ngene kie, sak bare melon lemahe yo pas diiciri lombok" kata mbah man sambil memondong pupuk yang akan sisebar
pagi ini 30/6/14.
Pertanian di
Desa Ngampel sendiri kurang lebih seluas 2 hektar telah ditanami buah
melon. Dimana usianya beragam, ada yang sudah 3 minggu ada yang baru
dua minggu seperti tanamannya mbah Man. Tanaman melon akan mulai berbuah
setelah sekitar 20 hari dan buah tersebut akan mengalami pertumbuhan
selama kurang lebih 60 hari baru benar2 siap pangan.(ly)